Allah Mengikuti Keyakinan Hamba

 

Kemurahan Allah itu diberikan kepada umat manusia, tanpa pandang bulu, tanpa pilih kasih. Alam dan seisinya diciptakan untuk manusia. Dan Allah akan mengikuti keinginan hamba-Nya. Jika manusia menghendaki harta dunia, Allah memberinya harta dunia. Jika manusia menghendaki pahala akhirat, Allah memberinya pahala Akhirat. Semua tergantung pilihan manusia, dan manusia diberi kebebasan untuk memilih. Namun kebebasan itu, sudah barang tentu tidak akan disia-siakan. Sebab salah pilih akan berakibat rugi dan fatal, dan yang menanggung dia sendiri. Allah tidak bisa disalahkan dan Allah tidak akan mendhalimi hamba-Nya kecuali hamba itu sendiri yang mendhalimi dirinya sendiri, karena salah pilih. Allah berfirman : “Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat itu. Dan kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS. 3:145).

Dunia dan seisinya sangat menggiurkan. Siapa sih, yang tidak suka uang. Siapa sih, yang tidak suka mobil. Siapa sih, yang tidak suka rumah. Hampir semua orang menginginkannya, bahkan meskipun sudah punya, ingin punya lebih banyak. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah harta kekayaan itu segala-galanya. Untuk mengetahui jawabannya, baiklah menyimak ayat berikut :

“…Maka di antara manusia ada orang yang berdoa: "Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia", dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat.”(200). “Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka"(201). “Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.” (207) Surat Al-Baqarah, 200,2001 dan 207.

Berdasarkan ayat tersebut di atas, maka manusia ditinjau dari segi keinginan atau orientasi hidupnya dapat dikategorikan kepada tiga golongan. Pertama, orang yang hidupnya hanya berorientasi kepada uang atau harta kekayaan. Mungkin banyak sekali orang yang masuk dalam kategori ini, karena uang menjanjikan segalanya. Dengan uang, orang bisa hidup enak, makan enak, tidur di tempat yang enak, naik mobil enak, naik kereta api yang enak, naik pesawat yang enak, bisa beli rumah mewah, bisa beli mobil mewah dan dengan mudah bisa menggait wanita cantik, berapa pun.

Karena hidup hanya berorientasi kepada uang, maka setiap hari, setiap waktu yang dipikirkan bagaimana cara mendapatkan uang. Pekerjaan apa yang dapat menghasilkan uang banyak. Kalaupun sudah ada pekerjaan yang menghasilkan uang, ia selalu berusaha bagaimana agar uangnya bertambah banyak. Akhirnya tujuan menghalalkan segala cara. Yang penting dapat uang banyak. Tidak peduli halal atau haram. Oleh karena itu, Nabi Ya’kub prihatin terhadap nasib masa depan anak-anaknya. Allah berfirman : “ Adakah kamu hadir ketika Ya'qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: "Apa yang kamu sembah sepeninggalku?" Mereka menjawab: "Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya". (QS 2:133).

Bagaimana dengan orang-orang tua kita, apakah ada yang memikirkan keselamatan anak-anaknya sebagaimana Nabi Ya’kub? Kalau orang tua kita berorientasi pada uang, tidak mungkin ia memikirkan keselamatan anak. Keselamatan dirinya saja tidak sempat terpikirkan, karena selalu terfokus pada uang. Kalaupun memikirkan anak, bukan keselamatannya, agamanya atau ketaqwaanya, tetapi pekerjaannya. Ayahnya berkata :“Kelak kamu mau jadi apa, nak? Mau makan apa, nak?” Terkadang orang tua menumpuk-numpuk harta untuk anak sampai tujuh keturunan tanpa memikirkan nasib dirinya kelak di akhirat. Padahal Rasulullah tidak mengajarkan seperti itu. Rasulullah wafat tanpa meninggalkan harta warisan. Semua hartanya dibelanjakan untuk sedekah jariyah. Lebih berbahaya lagi, jika orang tua mengajarkan anak-anaknya untuk bekerja yang tidak halal. Sehingga yang dipikirkan bukan besok anak mau makan apa, tetapi besok anak mau makan siapa. Siapa yang akan diperas keringatnya, siapa yang akan diambil hak-haknya, siapa yang akan dirampok kekayaannya. Itulah akibat dari hidup yang berorientasi kepada uang. Di akhirat tidak akan mendapatkan apa-apa. Sementara di dunia ia menjadi kapitalis, matrialis, bahkan menjadi srigala yang menerkam kawannya sendiri.

Kalau hidup sudah matrialistis, semua kegiatan diukur dengan uang, ia mau bekerja kalau ada uang, ia mau pergi jauh kalau ada upah, ia mau bantu mengirimkan surat kalau ada imbalan. Sehingga sudah tidak ada lagi istilah tolong menolong, apalagi beramal atau bersedekah. Maka kualitas seseorang ditentukan oleh keinginannya dan sesuai dengan apa yang dipikirkannya. Allah akan selalu mengikuti keinginan hamba-Nya. Oleh karena itu, hati-hati, jangan sampai memilih keinginan yang rendah (mengharapkan uang), apalagi keinginan yang buruk.

Kedua, orang yang menginginkan kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat. Ada dua yang dipikirkan, sehingga ada hukum perbandingan (balance), ada mizan (timbangan) dan ada hisab (perhitungan). Bisa terjadi kebaikan dunia lebih banyak daripada kebaikan akhirat, atau sebaliknya. Bisa terjadi amal baiknya lebih banyak daripada amal buruknya, atau sebaliknya.

Jika ada dua yang dipikirkan, manusia akan selalu menimbang-nimbang sebelum melangkah berbuat atau mengambil keputusan. Suatu ketika bisa jadi, ia condong ke dunia. Dan suatu saat condong memilih amalan akhirat. Tinggal bagaimana ia mengatur hidupnya dan memeneg segala aktivitasnya. Semua tergantung pada keinginan dan kemauan manusianya. Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, sampai kaum itu mengubah nasib dirinya (QS.13:11) Apabila amal baiknya berat timbangannya, maka ia  selamat. Dan apabila amal baiknya ringan timbangannya, maka ia masuk neraka. (QS  101: 6-7).

 Dua pilihan ini menimbulkan beberapa kemungkinan buruk, meskipun ada kemungkinan yang selamat. Tetapi yang selamat itu harus melalui tahapan panjang dan melintasi titian rambut dibelah tujuh, yang disebut “Shirothol-Mustaqim”. Sebab dengan dua pilihan itu, konsentrasi pikiran terganggu, dan menjadi kurang fokus. Berulang-ulang Allah mengatakan di dalam Alqur’an bahwa kehidupan akhirat lebih baik daripada kehidupan dunia. Misal, surat Al-A’laa, 17 dan Adh-Dhuhaa ayat 4. Ini pertanda bahwa kita harus fokus kepada ibadah atau amalan akhirat. Jika tidak, suatu ketika merasa bahwa amal baiknya banyak dan tidak pernah meninggalkan shalat wajib, muncul niat yang kurang baik, yaitu sedikit berbuat dosa kecil, atau menunda kewajiban shalat. Alasannya, amal baiknya masih lebih banyak. Padahal amal baik dilakukannya belum tentu diterima di sisi Allah. Ada lagi orang yang gampang berbuat dosa dengan alasan Allah selalu membuka pintu maaf dan menerima taubat. Hal ini jelas sudah mempermainkan sifat Tuhan.

Akibat buruk selanjutnya adalah bahwa kebaikan apabila dicampur dengan keburukan, kebaikannya menjadi rusak. Karena keburukan atau dosa ibarat virus yang masuk ke dalam tubuh, ia akan menggerogoti dan merusak sel tubuh, dan tidak lama lagi tubuh menjadi sakit. Segelas air susu jika kejatuhan setetes air kencing, menjadi najis dan orang tidak lagi mau meminumnya. Allah berfirman : “Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui.” (QS 2:42).

Sekecil apapun dosa yang dilakukan oleh seseorang akan mempengaruhi pikirannya. Dan otak yang terlanjur merekam sulit menghapusnya. Maka, hati-hati dan jaga pikiran kita dari hal-hal negative yang masuk melalui pendengaran, penglihatan dan perasaan. “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.”(QS 17:36).

Resiko yang dialami begitu berat bagi yang memilih kebaikan dunia dan akhirat, karena membuka pintu masuk syaitan dan selalu bertengkar untuk saling mempengaruhi. Belum lagi kelak di akhirat, ia akan ikut antrian dalam Mizan (penimbangan amal) dan Hisab (perhitungan) serta melintasi jembatan panjang yang sangat tipis. Allah membalas amal perbuatan manusia sesuai dengan cara manusia berbuat dan beramal. Ketika manusia beramal menimbang dan menghitung untung dan rugi bagi diri dan keluarga, maka Allah membalasnya dengan melalui timbangan dan perhitungan(Mizan&Hisab). Tetapi Allah masih memberi kemurahan, satu kebaikan dibalas dengan sepuluh kebaikan. Sedangkan keburukan dibalas sepadan dengan keburukan yang dilakukan. Allah tidak akan pernah mendhalimi (curang) terhadap hamba-Nya.

Ketiga, orang yang hanya menginginkan kebaikan di akhirat. Tidak ada yang lain. Ia mengfokuskan diri pada perbuatan-perbuatan baik, ibadah dan amal saleh. Ia mempergunakan seluruh potensi yang dimikinya semaksimal mungkin untuk ibadah sesuai perintah Allah. (“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”QS 51:56) Ia jauhi semua larangan-larangan Allah. Bahkan perbuatan yang sia-sia pun dijauhi. Melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya dengan sepenuh hati, tanpa reserve dengan penuh keikhlasan. Karena yakin dengan seyakin-yakinnya bahwa Allah adalah segala-galanya. Allah Maha Pemurah. Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Karena patuh dan taat sepenuhnya kepada Allah dan Rasul-Nya dan meyakini Janji Allah yang tidak akan pernah meleset (dilupakan), ia melaksanakan perintah-Nya tanpa mempertimbangkan untung rugi bagi diri dan keluarganya. Ia tidak segan-segan mengorbankan seluruh hartanya untuk jihad di jalan Allah. Rasulullah, Khadijah, istrinya dan shahabat-shahabatnya menjadi contoh dalam hal membelanjakan harta untuk tegaknya kalimah Allah.

Menjadi kelompok ketiga, sebagai manusia pilihan yang dimuliakan Allah di sisi-Nya, tentu tidak gampang dan tidak banyak jumlahnya dibanding kelompok kedua dan pertama. Namun karena Allah selalu mengikuti keinginan hamba-Nya, maka jalan menuju kesenangan akhirat sebagai kemenangan yang luar biasa, masih terbuka lebar, dan Allah akan menyambutnya dengan “surprize”. Abi Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi saw bersabda : “Allah berfirman : “Aku sesuai dengan persangkaan hamba terhadap-Ku. Dan tidak menyimpang dari sangkaannya. Aku bersamanya ketika dia berdzikir. Jika dia berdzikir di dalam hatinya, Aku mengingatnya dalam hati-Ku. Jika dia berdzikir dalam jamaah, Aku mengingatnya dalam jamaah yang lebih baik (bersama Malaikat). Jika dia mendekati-Ku sejengkal, Aku mendekatinya sehasta. Jika dia mendekati-Ku sehasta, Aku mendekatinya sedepa. Jika dia mendekati-KU dengan berjalan, Aku mendekatinya dengan berlari”. (HR. Bukhari).

Ketika manusia beramal dan beribadah tidak menggunakan pertimbangan dan perhitungan mengenai untung dan rugi dengan penuh keikhlasan, maka Allah membalasnya tanpa ukuran dan timbangan. Allah tidak membalas dengan 10 x atau 70  x atau 100 x atau 700 x. Tetapi Allah membalas sesuai kehendak-Nya, sebagaimana Allah membalas pahala puasa di bulan Ramadhan. Di akhirat pun Allah memuliakan mereka dengan menyambutnya langsung masuk syorga tanpa lewat antrian hisab.

Komentar